Jumat, 23 November 2012

Ratapan Asa





Pada titik jenuhku
Meratap kealpaan yang menghujam
Mendera membahana dalam jiwa
Lemahnya diri bersandar
Terjatuh hingga pilu

Masa ini membelenggu hati
Menerkam akan angan yang tertanam
Tetesan butir air mata membasahi
Tertunduk aku dalam sujudku

Akankah aku lawan laju angin
Menahan aku dalam layangan hitam
Mengulur sang waktu tiada henti

Masa ini menembus jiwa
Menangkap bayangan kelam
Butiran asa kunjung lenyap
Tangan menggapai langit suci





23.22.12.10.12

Intuisi Lirik Air Hujan

Nah..,, Hujan lagi

Tetesan rintik hujan membasahi
Langit kelam menyelimuti bumi
Suara kodok dari arah danau
Nyanyian batang kayu bersenandung pilu
Angin berderu bak hentaman di padang pasir
..,,
14.27 *"29.11"*

Dan aku tetap meringkuk
Di bawah jeramba kota kelahiranku
Masih menunggu pucuk surat
Yang Engkau layarkan
Dalam gudu-gudu rindu
Akh Dinda
..,,
14.31 * "14.08"*

Sabtu, 17 November 2012

Hak - hak tetangga

Hak tetangga (terhadap dirimu) adalah, jika ia sakit engkau jenguk. Jika ia mati, engkau urusi. Jika ia membutuhkan pinjaman, engkau pinjami. Jika ia dalam kepapaan, engkau tutupi. Jika ia mendapatkan kesenangan, engkau memberikan ucapan senang. Jika ia mendapatkan kesusahan, engkau ucapkan belasungkawa. Janganlah engkau meninggikan bangunanmu melebihi bangunannya, sehingga engkau menutup hembusan angin ke rumahnya. Janganlah engkau mengganggunya dengan bau masakanmu tanpa engkau mau memberi sedikit dari masakan itu.
(HR. Thabrani)

TEMAN BAIK DAN JAHAT

Dari Abu Musa, Rasulullah saw. bersabda, “Teman yang baik laksana orang yang memakai minyak kasturi. Sekiranya orang ini tidak memberimu sedikit dari minyak wanginya, namun engkau dapat memperoleh baunya. Teman yang jahat laksana seorang pemompa api. Sekiranya engkau tidak terkena oleh sedikit baranya, namun engkau akan terkena sedikit percikannya.”
(HR. Abu Dawud)

Asal Mula Silampari


Kisah berasal dari desa Ulak Lebar, marga Sindang Kelingi Ilir, Lubuklinggau Sumsel.  Alkisah, di dusun Ulak Lebar tersebut hiduplah  seorang putri yang cantik luar biasa. Tubuh yang tinggi semampai, wajahnya  halus bercahaya, rambutnya panjang ikal mayang, jarinya-jemarinya lentik. Matanya berkilau seperti bintang. Gadis itu bernama Dayang Torek.
Karena  kecantikannya banyak orang terkagum-kagum. Dayang Torek terkenal sampai ke pelosok negeri. Banyak orang yang mengatakan  Dayang Torek seperti titisan bidadari  dari kayangan. Atau peri (orang Lubuklinggau menyebutnya) yang turun dari langit.
                Selain memiliki kecantikan yang luar biasa, Dayang Torek juga pandai menari.Sehingga Dayang Torek kerab diminta untuk menari di hadapan para pembesar yang datang berkunjung ke Ulak Lebar.
                Ternyata, kecantikan Dayang Torek menyebar ke seluruh antero negeri. Dan sampailah tentang kecantikan Dayang Torek ketelinga pangeran dari Palembang. Pangeran dari Palembang tersebut ingin membuktikan apakah benar Dayang Torek seorang gadis yang memiliki kecantikan luar biasa seperti digebar-gemborkan orang.Ketika sampai di desa Ulak Lebar, seperti biasa para tamu disambut dengan tari-tari persembahan.  Betapa terkejutnya pangeran ketika melihat seorang penari yang lemah gemulai dan memiliki kecantikan luar biasa. Pangeran sangat terpesona.
“ Wow…cantik sekali gadis ini. Luar biasa…Benar kata orang kalau di desa ini ada bidadari. Siapakah nama bidadari ini..?” batin Pangeran. Kekaguman Pangeran membuat dirinya ingin memiliki putri Dayang Torek. Hatinya sudah bulat ingin menyunting putri Dayang Torek. Lalu pangeran menghadap ayahanda Dayang Torek, Gindo Ulak Lebar. Menyampaikan keinginannya untuk menjadikan Dayang Torek Istrinya.
“ Gindo Ulak Dalam.., saya bermaksud ingin menyunting putri Gindo, Dayang Torek. Aku ingin membawnya ke istanaku di Palembang untuk kujadikan permaisuri” Ungkap pangeran.
“ Hamba tidak bisa menolak baginda Pangeran. Semuanya hamba serahkan kepada Dayang Torek sendiri. Karena dialah yang punya hak untuk menentukan nasibnya” Jawab Gindo Ulak Dalam dengan hati bergetar.
Namun ketika Pangeran mengemukakan maksudnya dengan Dayang Torek, ternyata  Dayang Torek dengan halus menolak permintaan Pangeran dengan alasan belum mau berumah tangga. Sang Pangeran berusaha menutupi kekecewaannya. Dalam hati dia bertekad suatu saat Dayang Torek pasti akan dipersuntingnya.
Setelah kembali ke Palembang, beberapa kali Pangeran mengirim utusannya ke dusun Ulak Lebar guna mendapat kepastian terhadap kesediaan Dayang Torek, untuk disunting dan diboyong ke Palembang. Dan tak lupa setiap utusan yang datang ke desa Ulak Lebar membawa barang-barang berharga sebagai hadiah.
Melihat gelagat ini, Gindo Ulak Lebar mulai  waspada terhadap penolakan putrinya. Walau bagaimanapun Pangeran adalah atasannya. Tidak menutup kemungkinan suatu saat akan terjadi hal yang tidak diinginkan terjadi di Ulak Lebar ini. Akhirnya Gindo bersama dengan warganya menanami sekeliling kampung dengan bambu yang sangat rapat. Maksudnya sebagai benteng pertahanan.
Namun sebelum pekerjaan mereka selesai, Dayang Torek telah diculik.  Semua penduduk geger. Dayang Torek di cari kemana-mana namun tidak bertemu juga. Akhirnya diketahuilah kalau Dayang Torek telah diculik oleh orang suruhan pangeran. Suatu hari Gindo datang ke Plembang menemui Pangeran.
“ Pangeran junjungan patik, hamba mohon kembalikan putrei hamba. Mengapa Pangeran menculiknya?”
“ Gindo, aku menyukai anakmu itu. Berulang kali aku meminta kesediaannya un tuk kupersunting jadi istriku tapi diaiselalu menolak. Sekarang dia telah menjadi istriku.dia akan bahagia hidup di istanaku. Pulanglah ke Ulak Lebar”
  Dengan perasaan sedih akhirnya Gindo pulang ke Ulak Lebar. Bagaimanapun cara pangeran menculik anaknya bukanlah tindakan terpuji Selanjutnya mengetahui ini, adik Dayang Torek yang bernama Nyongang menyusul ke Palembang. Ternyata Dayang Torek telah mempunyai seorang putra. Darah muda Nyongang bangkit. Dia tidak terima adiknya diperlakukan seperti itu. Dayang bukan dijadikan permaisuri, akan tetapi dijadikan sebagai selir.
“Ayuk Dayang Torek, kau harus lari dari sekapan Pangeran bejat itu ayuk. Mari pulang bersamaku” Bujuk Nyongang.
“Adikku…, aku telah berputra”
“Tinggalkan  saja, Bukankah ini istana bapaknya”
“Tidak dik, Bagaimanapun dia adalah darah dagingku. Aku tidak mungkin meninggalkannya”
“Baik, kalau begitu kata bawa pergi” kata Nyongang. Akhirnya Nyongang berhasil membawa kabur Dayang Torek dan anaknya. Mereka berjalan- keluar masuk hutan tiada henti. Akhirnya s amapailah mereka di tepi sungai Kelingi di kaki Bukit Sulap. Sejak awla Nyongang tidak menyenangi anak Dayang Torek yang dianggapnya a nak haram.  Munculah akalnya untuk melenyapkan anak itu. Diselipkannya taji ditangannya lalu dtepukannya ke dahi anak Dayang Torek. Anak Dayang Torek meninggal seketika.
“Nyongang! Apa yang kau lakukan? Mengapa kau bunuh anakku?” Kata Dayang Torek histeris.
“Tidak yuk, aku hanya menepuk nyamuk yang menempel di dahinya”
“Tidak!! Kau sengaja ingin melenyapkan anakku!.”
“Yuk, sudahlah mengapa harus ditangisi? Bukankah ayah anak ini adalah orang yang ayuk benci? dan ini.., ini anak haram yuk!”
“Tidak! Kau tidak boleh melakukan ini. Anak ini tidak berdosa Nyongang. Dia adalah darah dagingku. Aku benci dengan kau! Kau juga jahat!! Jahat!!” Dayang Torek menangis
sambil berlari ke Bukit Sulap.
“Ayuk….! Jangan pergi. Ayuuuuk!!” Nyongang berteriak-teriak mengejar Dayang Torek. Tiba-tiba Dayang Torek lenyap tak tahu kemana.”Yuk…kemana kau yuk…, kemana kau…mengapa kau menghilang!” Nyongang menangis sejadi-jadinya.
 Akhirnya tinggalah Nyongang menangis sedih meratapi kepergian Dayang Torek yang hilang di Bukit Sulap. Sejak itu, untuk mengenang peristiwa tragis di Bukit Sulap masyarakat menyebutnya silampari. Artinya Putri atau peri yang hilang (silam). Sampai sekarang Lubuklinggau dan Musi Rawas sering disebut Bumi Silampari.

IMPIANKU

Aku datang dari negeri Ampera
Menuju tanah Rafflesia untuk menggapai impianku
Untuk meraih mimpiku dengan awalku seorang mahasiswa
Semuanya adalah tekadku, Keinginanku
Sesungguhnya…….Bunda tidak melepas daku pergi
Dengan tetesan air mata Bunda…hingga aku kemari
            Ternyata kehidupan mahasiswa jauh sekali dalam bayanganku
            Debu menyelimuti lalu lalangku menuju kampus biru
            Terik matahari, menyengat tubuh ku yang mungil
            Hujan menjadi teman seperjalanku
            Hingga akhirnya aku terkulai, sakit tak berdaya
            Tetapi dalam benakku hanya ada satu “impianku”
Dunia mahasiswa banyak mengajariku, membuka pikiranku tentang kehidupan yang sesungguhnya
Mulai dari pengkhianatan seorang teman
Cinta dan kesetiaan yang aku miliki
Perang dan konflik dalam perlemen
Hingga kemunafikan seseorang yang mengaku dirinya suci
            Kehidupan mahasiswa belum usai
Kepenatan, perang pemikiran, mempertahankan argument adalah hal yang membuat batin sakit
            Tapi semua itu harus dilalui, harus dijalani demi “Impian”
            Hari ini… ditempat ini
            Aku, kamu, Dia dan kita semua mencapai itu
            Gelar sarjana disandangkan dan membri nuansa baru dalam nama
            Senyum termanis hadir menghiasi
            Kebahagiaan terpancar dalam nuansa jingga
Hari ini, kebahagiaan ini
Senyum ini dipersembahkan untuk Bunda, untuk Ayah
Untuk Sahabat, untuk mu sang motivator
Dan untuk Sang Ilahi Robbi dalam batinku.


Bengkulu, 5 Desember 2011
Pukul : 20.44

Demi Siang Dan MalamMu

Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari
Demi bulan apabila mengiringinya
Demi siang apabila menampakkannya
Demi malam apabila menutupinya
Demi langit serta pembinaannya
Demi bumi serta penghamparannya
Demi jiwa serta penyempurnaannya
Demi malam apabila menutupi
Demi siang apabila terang benderang
Demi penciptaan laki-laki dan perempuan
Demi teriknya bola api
Demi nuansa tetesan kesejukan dalam waktumu
Demi indahnya Sang cahaya
Demi kelamnya cakrawala
Demi jiwa dan pikiran berpadu
Demi hati yang memuja
Demi sujud kepadaMU
Demi nafas dan detak jantung ini
Demi siang dan malammu.

****00.18.29.08.12***